Tuesday, December 10, 2013

Bandung, Kabut Kawah Putih, dan Tutuan !

Liburan hanya 12 jam di Bandung mungkin sudah biasa terdengar telinga kita. Bandung dengan jarak yang bisa ditempuh dengan waktu 3 jam barangkali banyak yang pulang pergi alias ‘tek-tok’ dalam sehari.  Tentu saja tujuan destinasi utama ke Bandung biasanya adalah untuk berbelanja.


Bagaimana jika kali ini kita menikmati kota ‘tempat kaburnya orang Jakarta’ dari sisi lain. Mari kita melipir ke wisata alam di selatan Bandung, tepatnya Kawah Putih di Ciwidey. 

Kawah putih dapat di tempuh dari pusat kota bandung dengan durasi perjalanan selama 3 jam. Jika Anda membawa kendaraan pribadi, mungkin akan lumayan melelahkan, mengingat rute yang dilewati merupakan area macet, yaitu pusat industri barang-barang berbahan kulit di Kopo.


Alternatif lain untuk mengelilingi Bandung tanpa lelah adalah dengan merental kendaraan dengan tarif Rp 250-450 ribu selama 24 jam termasuk supir. Saya bersama 10 teman memulai perjalanan dari kota Bandung menuju Ciwidey sekitar pukul 12.30 WIB setelah makan siang.

Sesampai di area wisata alam Kawah Putih sendiri kita bisa memilih untuk membawa kendaraan pribadi untuk masuk ke dalam area dan dikenakan tarif Rp 150 ribu untuk mobilnya, atau menggunakan angkot sewaan dengan harga yang sama, tapi bisa dinaiki 13 hingga 15 penumpang. Jangan lupa biaya masuk tempat wisata ini sebesar Rp 15 ribu per orang.


Hal yang lucu terjadi saat liburan ramean mendadak kami, saat akan membayar biaya masuk, baik Bayu dan Om sano berebutan membayar untuk kami ber 11. Haha! Mau bayar aja rebutan :p


Kawah putih sendiri merupakan areal danau kawah yang mengandung belerang yang berada di ketinggian sekitar 2.194 mdpl, dengan suhu sekitar 10-15 derajat celcius. Februari lalu ketika kami ke sini, suhu berada di sekitar angka 13 derajat celcius, berkabut dan berangin kencang.

Jangan lupa membawa masker ya! Aroma belerang yang menyeruak cukup membuat kamu nanti mual. Selain memang bau gas yang berasal dari belerang, gas ini juga beracun apabila terlalu lama kita menghirupnya.


Tapi saya akui, suasananya cukup romantis (banget) untuk traveling bersama pacar (pacar siapa?). Bila ke sini ber 13 orang seperti saya, rasanya lebih tepat dikatakan acara tamasya remaja paruh baya! hehe


Di sini juga terdapat gua dari jaman Belanda yang hanya bisa dilihat karena pintu masuknya ditutupi palang-palang kayu. Saat kemarin saya ke sana, ternyata selain sebagai destinasi wisata, Kawah Putih juga bisa dipakai sebagai area pemotretan prewedding.


Saya menduga, mungkin setelah pemotretan, mempelai wanita akan masuk angin! Terang saja, si calom mempelai wanita hanya mengenakan gaun berkemben merah. Mungkin kulitnya badak kalau dia tidak sakit setelah pemotretan.


Satu hal yang harus dipastikan ketika ke kawasan ini menggunakan angkot carteran, supir angkot harus dipastikan untuk menunggu penumpangnya karena tarif Rp 150ribu itu untuk naik ke atas hingga mendekati kawah, serta turun lagi nantinya ke parkiran area kawah putih.


Jangan seperti yang kami alami, tertipu oleh supir angkot dan berakhir menumpang pada mobil bak salah satu wisatawan yang kami cegat karena saat itu hari mulai gelap. Terima kasih Hanif untuk berbahasa Sundanya yang fasih!


Jika tidak mendapat tumpangan, berjalan kaki turun ke area parkiran merupakan satu-satunya solusi. Sempat kami semua diajak Bayu untuk berjalan kaki menuruni bukit. Menurutnya dari pada terjebak gelap malam di atas, lebih baik berusaha turun pelan-pelan.

Setelah menunaikan Magrib, wisata malam pun dilanjutkan dengan kembali ke pusat Kota Bandung untuk mencari makan. Perjalanan sekitar 3 jam lagi dengan ekspekasi sesampai di Kota Bandung  kondisi jalanan sudah tidak macet.


Sesuai perkiraan, walaupun malam minggu, dan baru pukul 21.00, jalanan sudah lenggang. Ini uniknya Bandung, Pukul 19.00 jalanan seputar Dago masih sangat macet, selang 2 jam, sudah seperti tidak ada kehidupan! Kemanakah yang berpacaran di malam minggu? Jawabannya adalah di Punclut!

Di dataran tinggi Punclut kita dapat menikmati berbagai makanan Sunda. Makan malam pun kami putuskan di sana. 

Sebenarnya, yang dijual dari tempat wisata kuliner ini adalah suasananya. Anda dapat melihat seluruh kota bandung dari tempat ini, tak heran banyak pasangan muda dan keluarga memenuhi kawasan kuliner ini sebagai alternatif pilihan kuliner di Bandung yang rata-rata berupa kafe.

Ada satu makanan yang menurut saya cukup unik dan enak, Tutut, yaitu keong sawah yang di olah sedemikian rupa menggunakan kuah lada hitam dicampur jahe.

Cara makannya juga unik, anda harus menyedot ataupun mencongkel daging Tutut dari cangkangnya, agak cukup sulit, tetapi kalau berhasil, akan sangat puas memakannya. Rasanya makanan ini kurang lebih seperti kerang, bagi yang cepat merasa jijik, seperti teman saya, sebut saja Bayu, menelan tutut pun tidak sanggup. 

Untuk harga makanan di Punclut cukup terjangkau. Total biaya untuk kamis semua termasuk dua supir hanya menghabiskan sekitar Rp 320 ribuan. Cukup terjangkau, bukan?


Setiap harinya tempat ini mulai buka sekitar pukul 17.00-03.00. Mungkin selain wisata berbelanja, ulasan saya ini bisa menjadi alternatif untuk liburan kilat menghilangkan penat.